Catatan Mingguan Men Coblong: Awas

Ungkapan duka cita dan dukungan untuk polisi korban serangan teroris. Foto Anton Muhajir.

MEN COBLONG terdiam begitu lama.

Kerusuhan di Rumah Tahanan Markas Komando Brigade Mobil (Rutan Mako Brimob) yang terjadi pada Selasa (8/5) sore masih mengepung dan menusuk pikirannya sampai ke palung ujung akar-akar otaknya. Rasa sedih yang begitu dalam mengepung pikirannya merembes ke hati dan jantungnya. Menimbulkan rasa luka yang begitu dalam.

Bagaimana mungkin peristiwa itu bisa terjadi? Seperti kolase film-film yang bertebaran terus mencengkram dan melumat pikiran. Operasi penanggulangan kerusuhan itu baru dinyatakan selesai pada Kamis (10/5) pukul 07.15.

Para napi teroris itu menyandera sejumlah polisi. Polisi terakhir yang bisa dibebaskan dalam penyanderaan adalah Bripka Iwan Sarjana. Tiga polisi, termasuk Sulastri, mengalami luka dalam peristiwa itu. Sedangkan lima polisi gugur, yaitu Briptu Luar Biasa Anumerta Fandy Nugroho, Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji, Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli, dan Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas.

Iptu Sulastri merupakan satu-satunya polwan yang selamat dari kerusuhan napi teroris di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Sulastri mengalami luka cukup parah di bagian wajah akibat dianiaya para napi teroris. Sulastri dirawat di RS Bhayangkara Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian, yang baru tiba di Tanah Air dari Yordania, menyempatkan diri membesuk Sulastri di RS Bhayangkara. Kepada Tito, Sulastri menceritakan detik-detik kekejaman para napi teroris. Sulastri dianiaya menggunakan tabung pemadam kebakaran.

“Ributnya bukan di ruang pemeriksaan?” tanya Tito dalam sebuah video yang tersebar di media sosial. Sulastri melanjutkan, dia bersama sejumlah petugas yang berjaga lainnya dikejar para napi teroris itu. Para napi teroris menyerang dengan peralatan yang ada.

“Setelah itu kita keluar, anggota semua (keluar). Anggota yang turun itu yang saya lihat Iwan (Bripka Iwan Sarjana) juga. Saya turun, mereka ke bawah bawa kayu, pakai helm,” kata Sulastri.

Begitu berita yang dibagikan di media sosial, di beragam pesan singkat. Pokoknya hiruk-pikuk. Simpang-siur, juga memiliki banyak penafsiran. Kita bisa saja melihat peristiwa ini dengan cara berpikir masing-masing yang berbeda-beda. Pikiran dengan beragam wasangka dan beragam cara. Begitulah adab dan prilaku masyarakat modern saat ini.

Lalu di mana sesungguhnya hati dan pikiran kita bermuara?

Men Coblong hanya bisa diam, sambil membayangkan bagaimana rasanya menjadi Iptu Sulastri, seorang perempuan muda terjebak di tengah suasana yang tentu saja dibayangkan pun tidak memungkinkan. Seperti apa perasaannya pada saat itu? Apa yang dipikirkannya? Apakah dia membayangkan maut? Atau tangan-tangan asing yang merenggutnya tiba-tiba tanpa bisa dikendalikan.

Peristiwa itu bagi Men Coblong harusnya segera diselesaikan. Kuncinya adalah tindakan tegas. Stop berwacana, stop berjanji. Stop mengurai ide-ide mengawang-awangan dengan realisasi yang cenderung minus.

Sudah menjadi kebiasan bagi pengempu negeri ini, jika terjadi peristiwa besar yang mendapat sorotan tajam dari masyarakat luas juga pers, sesungguhnya banyak juga orang-orang yang tidak memiliki hati “mencuri panggung” untuk kepentingannya sendiri. Ini yang harus diawasi, harus dikritik dan dijauhi.

Publik juga harus mulai ikut menyuarakan pemikiran-pemikiran yang bisa mengingatkan kembali pada beragam janji, beragam wacana yang sering “dihibahkan” para pejabat untuk membangun negeri ini, bangsa ini ke arah kemajuan sesuai dengan kebutuhan pasar dunia. Manusia-manusia yang memiliki karakter kuat. manusia-manusia yang menguasai Iptek. Manusia-manusia yang bisa menuntun bangsa ini ke arah kemajuan yang lebih baik.

Aslinya Men Coblong sebagai rakyat kecil hanya menginginkan semua aturan main di negeri ini ditata ulang kembali. Bukankah masalah padatnya penjara sesungguhnya sudah jadi isu yang membosankan, padahal kita tahu penjara kita sudah tidak layak huni. Tahanan sudah seperti pindang yang dimasukkan terus menerus sehingga kelebihan beban. Bayangkan saja jika itu kita yang dicekoki dan direcoki beragam masalah, otak kita dan jiwa kita pasti terteror. Tinggal menunggu meledaknya saja.

Sungguh memprihatinkan jika bangsa ini tidak awas. Men Coblong juga menghormati pernyataan Kepala Negara yang mengapresiasi proses penanganan bisa dilakukan dengan cara yang baik. Jokowi juga menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas lima polisi yang gugur dalam peristiwa ini. Dia menekankan negara dan seluruh rakyat tak akan takut terhadap terorisme. “Negara dan seluruh rakyat tidak pernah takut dan tidak akan pernah memberi ruang kepada terorisme dan upaya-upaya yang mengganggu keamanan negara,” kata Jokowi.

Tetapi cukupkah dengan apresiasi? Atau rasa duka? Yang harus kita lakukan sesungguhnya adalah segera memperbaiki semua sistem dengan cepat. Terorisme memang ancaman seluruh dunia, bukan berarti kita harus leyeh-leyeh menghadapinya. Apalagi pagi ini kita mendapat “breaking news”, sebuah ledakan terjadi di Gereja Katolik Santa Maria Ngangel, Surabaya, Jawa Timur, Minggu pagi ini, 13 Mei 2018. Mari berhenti berwacana. [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*