Memburu Tenggelamnya Matahari di Bukit Kursi

Pengunjung dapat menikmati momen matahari terbit maupun tenggelam. Foto Ahmad Muzakky.

Muhammad Naufal Khaqi bergegas memacu sepeda motornya sedikit lebih kencang.

Ia melaju ke barat seirama matahari yang beranjak pulang.Tempat yang dituju Khaqi adalah Bukit Kursi ia berangkat dari Kota Singaraja, di Bali bagian utara. Untuk menuju Bukit Kursi, ia harus menempuh jarak hampir 60 km, memakan waktu kurang lebih satu setengah jam.

Khaqi, wisatawan asal Jawa Timur yang sedang berlibur ke Bali memutuskan mengunjungi Bukit Kursi akhir Juli lalu setelah mendapatkan rekomendasi dari temannya.

Karena perjalanan memakan waktu yang lumayan lama, Khaqi memilih berangkat lebih awal, pukul tiga menjelang sore. Hal tersebut ia lakukan agar tak ketinggalan momen-momen saat matahari tenggelam.

Sesampainya di loket pintu masuk bukit ini Khaqi mencatat namanya di daftar pengunjung yang sudah disediakan oleh pengelola. Sore itu, ia adalah wisatawan ke-107 yang berkunjung ke lokasi tersebut. Di hari libur, menurut Sumiarti, petugas yang berjaga di loket saat itu, wisatawan yang berkunjung ke sini bisa mencapai 300 orang.

Usai mengisi buku daftar pengunjung, Khaqi membayar uang donasi sebesar Rp10.000 kepada petugas penjaga. Wisatawan yang datang ke Bukit Kursi tidak dikenakan biaya masuk. Wisatawan hanya perlu membayar uang donasi seikhlasnya.

“Uang donasi tersebut digunakan untuk mengembangkan fasilitas wisata Bukit Kursi. Seperti pengadaan toilet dan tong sampah, membangun araeal parkir, memperbaiki tangga yang rusak,” ujar Sumiarti.

Seorang pengunjung menikmati momen matahari tenggelam di atas Ayunan Cinta. Foto Ahmad Muzakky.

Spot Sunrise dan Sunset

Dua hal yang biasa dilakukan wisatawan ketika berkunjung ke Bali adalah menikmati momen terbit dan tenggelamnya matahari. Hal tersebut tak ingin dilewatkan oleh Khaqi.

Pemandangan matahari terbit atau tenggelam memang memiliki daya pikat tersendiri bagi penikmatnya. Bulatan matahari yang kuning dengan cipratan semburat oranye di langit seperti mampu menyihir mata yang memandangnya.

Sebagian wisatawan tak akan melewatkan ini. Hal itu yang kemudian memunculkan beberapa sunrise dan sunset spot, istilah untuk menyebut tempat yang ramai dikunjungi untuk menikmati momen matahari terbit dan tenggelam.

Di Bali spot-spot seperti ini biasa ditemui di pantai. Pantai Sanur atau Serangan untuk memburu matahari terbit, pantai Kuta atau Tanah Lot untuk memburu matahari tenggelam.

Khaqi memilih Bukit Kursi untuk menikmati sunset bukan tanpa alasan. “Kalau ke pantai Sanur dan Kuta kan sudah terlalu mainstream. Pemandangan sunset di sini tidak kalah indahnya dengan di sana,” ujar Khaqi merujuk pada spot sunset popular yang ada di Bali.

Dengan ketinggian hanya 700 meter Bukit Kursi cocok digunakan untuk wisata berburu matahari terbit dan tenggelam bagi siapan saja. Wisatawan hanya perlu mendaki sekitar setengah jam hingga puncak.

Jalur treking sepanjang Bukit Kursi tidak merepotkan. Pengelola membangun anak tangga sepanjang trek utama untuk memudahkan pengunjung ketika mendaki. Namun jika ingin yang lebih menantang wisatawan bisa mendaki Bukit Kursi dengan jalur berbeda.

Lelah ketika mendaki pun tidak akan terasa. Pasalnya mata pengunjung akan dimanjakan dengan lansekap menawan dari atas ketinggian. Jika memandang ke utara dari Bukit Kursi akan terlihat birunya Teluk Pemuteran, pusat wisata menyelam dan spiritual terkenal di Bali bagian utara. Di sisi selatannya menjulang barisan perbukitan.

Meski begitu saat akan mendaki Bukit Kursi Karena tetap perlu stamina yang fit. Siapkan bekal sendiri seperti air mineral dan camilan karena di areal Bukit Kursi tidak ada pedagang.

Bukit Kursi adalah wisata dua musim. Jika berkunjung pada musim hujan hamparan bukit akan berwarna hijau menyegarkan mata. Pada musim kemarau hamparan bukit akan berubah warna menjadi coklat. Namun hal tersebut tidak akan mengurangi keelokannya. Apalagi jika ditambah dengan cahaya emas matahari kala sore atau pagi.

Di puncak bukit kursi terdapat dua ayunan yang terbuat dari kayu yang oleh pihak pengelola dinamakan Ayunan Cinta. Pengunjung bisa berfoto di sana dengan latar hamparan bukit di sisi barat, hamparan lautan di sisi utara, serta matahari terbit atau terbenam.

Di atas bukit terdapat Pura yang digunakan oleh umat Hindu bersembahyang. Foto Ahmad Muzakky.

Wisata Spiritual

Di atas Bukit Kursi terdapat pura yang disucikan oleh umat Hindu. Di dalam pura tersebut terdapat batu yang berbentuk kursi.

“Pada tahun 1984 areal pura tersebut merupakan batu biasa. Kemudian oleh pelingsir Desa Pemuteran pura tersebut dinamakan Pura Bukit Batu Kursi,” ujar Ketut Wirdika, tokoh adat Desa Pemuteran.

Berada di Bali Utara, topografi Desa Pemuteran merupakan kawasan pesisir laut utara yang dikelilingi perbukitan di sisi selatannya. Di sepanjang perbukitan inilah berdiri beberapa pura yang digunakan sembahyang oleh umat Hindu. Pura tersebut di antaranya adalah Pura Pulaki dan Pura Melanting yang bersebelahan dengan Pura Bukit Batu Kursi.

Menurut Wirdika, awalnya Bukit Kursi hanya diperuntukkan bagi orang yang akan bersembahyang. Sejak awal tahun 2000-an, Bukit Kursi mulai dibuka untuk tujuan wisata.

Kini Pura Bukit Batu Kursi tak hanya ramai dikunjungi oleh umat Hindu yang akan bersembahyang. Pura Bukit Batu Kursi juga dikunjungi oleh wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Dengan demikian berwisata di Bukit Kursi merupakan gabungan wisata alam, wisata petualangan, wisata spiritual.

Karena terletak di areal sekitar pura, wisatawan yang berkunjung ke Bukit Kursi diharuskan menjaga tindak-tanduknya. Pengunjung yang ingin melihat batu kursi harus memakai pakaian adat karena memasuki kawasan pura.

Mendaki Bukit Kursi terdapat beberapa peraturan yang harus ditaati oleh pengunjung. Salah satunya adalah aturan mengenai bendera kuning dan merah di jalur yang dilalui. Jalur yang terdapat bendera kuning artinya aman untuk dilalui, sementara terdapat bendera merah tidak aman dilalui.

Bagaimana? Tertarik untuk ke sana? [b]

Catatan: tulisan ini juga pernah dimuat Mongabay Indonesia.

One Comment

  1. Avatar El Siregar

    Sebaiknya dijadikan Taman Wisata Alam Bukit Kursi dan orang beli tiket.
    Di Taman Wisata Alam Gunung Tunaq di Lombok di gerbang masuk ada Posko Kehutanan dan pengunjung beli tiket.

    Wisatawan mancanegara rp 100.000 dan lokal rp 5.000.
    Ini income penting buat pemeliharaan taman nasional dan karyawan.

    Tempat yang bagus tentu wisatawan tak keberatan membayar tiket.
    Harganya kan hanya segelas kopi buat kita and one botle of beer for them.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*