Matinya Tulamben akibat Krisis Gunung Agung

Suasana pantai Tulamben yang biasanya ramai kini sepi sejak status Gunung Agung naik jadi Awas. Foto I Nyoman Suastika.

Pariwisata pun mati suri di Tulamben sejak status Gunung Agung menjadi Awas.

Gunung Agung merupakan salah satu gunung di Kabupaten Karangasem. Setelah Gunung Agung berstatus awas pada 22 Oktober 2017, sebagian warga yang berada di radius 12 km pun dievakuasi ke berbagai daerah di Bali.

Warga yang dievakuasi adalah mereka yang tinggal di 28 desa di Kabupaten Karangasem. Salah satunya Desa Tulamben.

Desa Tulamben merupakan salah satu desa yang terdampak langsung terhadap bencana Gunung Agung setalah statusnya menjadi Awas atau pada level 4.

Desa Tulamben masuk dalam KRB 2. Dalam hal ini kena zona merah. Dalam zona ini tidak di perbolehkan ada aktivitas apapun di Desa Tulamben. Sehingga semua warga dianjurkan untuk mengungsi ke berbagai daerah di Bali.

Jumlah warga Tulamben 11.843 jiwa. Sebagian besar mengungsi.

Dengan penetapan Desa Tulamben masuk KRB 2 maka aktivitas tidak ada sama sekali, termasuk kegiatan pariwisata.

Kegiatan pariwisata di Tulamben adalah penyelaman dan snorkling. Tulamben merupakan objek wisata yang sudah terkenal dengan keindahan bawah lautnya. Ada situs kapal tenggelam pada Perang Dunia kedua pada tahun 1942. Kapalnya lebih dikenal dengan nama USAT LIBERTY Tulamben Wreck.

USAT LIBERTY Wreack Tulamben berlokasi di Br. Dinas Tulamben. Banjar ini merupakan satu dari enam dusun di kedesaan Tulamben yang terdampak langsung oleh penutupan aktivitas pariwisata Tulamben.

Dengan ditutupnya aktivitas objek wisata ini, otomatis semua pengusaha tutup dari aktivitas penyelaman. Begitu pula warga yang ikut pengungsi.

Warga Tulamben tergantung dengan pariwisata. Dengan demikian perekonomian masyarakat menurun drastis.

Berdasarkan pantauan pagi tadi, Minggu, 29 Oktober 2017 di Pusat Parkir dan pantai Tulamben tidak ada pengunjung sama sekali. Padahal biasanya pada pukul 9.00 mulai wistawan terutama asing sudah berdatangan.

Bahkan semua waruh ditutup seolah-olah bukan Tulamben yang dulu.

Dampak bencana ini sangat besar, misalnya masyarakat harus hilang pekerjaan, pendapatan masyarakat menurun, juga tidak ada kunjungan wisatawan. Tulamben seperti pariwisata yang mati suri.

Warga Br. Dinas Tulamben mengungsi ke berbagai daerah seperti Desa Tembok, Penuktukan, Sambirenteng, dan desa lainnya. Di pengungsian tidak ada aktivitas sama sekali. Mereka hanya bercanda tawa sedangkan untuk anak-anak diizinkan sekolah di lokasi pengungsiannya.

Harapan ke depan ada solusi untuk membantu warga yang terkena bencana ini dengan demikian dapat meringankan beban warga di pengungsian. Selain juga semoga ada pihak terkait membantu menjaga kawasan Pariwisata Tulamben. [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*