Author: Luh De Suriyani

Ubud Village Jazz Festival yang Menghangatkan Hati

Angin berhembus cukup kencang sepanjang malam. Pepohonan besar di Agung Rai Art Museum (ARMA) bergoyang, dahan-dahannya melengkung, dedaunan berjatuhan. Rintik hujan mulai membasuh kulit. Namun interaksi musisi di atas panggung terus berjalan, penonton malah makin menghangat. Memberikan tepukan, bercuit-cuit memberi apresiasi, dan menyoraki tiap musisi usai bermain solo. Sepasang penonton […]

Sekali Pentas Memberikan Sensasi Kebelet

Mencekam, mengintimidasi, menakutkan, sekaligus menggelikan. Matur tampi asih Teater Sekali Pentas (dan Teater Kalangan?) yang memberikan Kebelet dengan sangat murah hati. Tiga hari berturut secara gratis, menuntun tangan dan bahu kami, menyuguhkan kopi, cemilan, dan menghadiahkan beberapa keping artikel untuk dibawa pulang. Cocok dibaca saat kebelet di rumah atau kos-kosan.

Menelusuri Keterkaitan Pendidikan Kespro dan Peristiwa Penelantaran Bayi

Pernah senewen membaca berita peristiwa penelantaran bayi? Siapa yang akan muncul dalam berita penangkapan pelakunya? Sudah pasti sang ibu. Demikian juga jika ada peristiwa perkosaan yang berujung kehamilan pada anak, siapa yang banyak dikabarkan? Kemungkinan si ibu, jika pelajar berisiko putus sekolah. Entah dikeluarkan dari sekolah atau mengundurkan diri. Kenapa […]

Siapa Saya Sebenarnya: Transpuan atau Transmen?

Gambarlah tubuh manusia. Kelompokkan jadi tiga bagian, otak, alat kelamin, dan hati. Dari sini kita bisa mengidentifikasi diri secara seksual dan reproduksi. Misalnya, alat kelamin saya penis, tetapi otak mendorong berperilaku sebagai perempuan. Namun, di sisi lain, hati saya terhubung secara emosional, kadang menikmati hubungan dengan laki dan juga perempuan.